Aku takut engkau marah kepadaku
Semua berlalu cepat sekali
Saat aku menghadap kekiri, dan berbalik engkau sudah
menghilang
Aku tak mau tak merasakan lagi tanganmu
Kecemasanku semakin berat saat mendengar tangisan disekitar
Aku bingung buat apa suara itu ada
Semakin aku langkahkan tapakku,
Tak sanggup hatiku melihat kau diam
Matamu menutup, apa engkau tidur?
Kurasa bukan jam istirahat bagimu
Aneh pakaian yang engkau kenakan
Begitu putih bersih membalut sekujur tubuhmu
Bukan bantal biasa yang disampingmu, melainkan orang yang
menyayangimu
Aku baru menyadari keadaan apa ini
Tangisan, ayat al-quran, baju putih, mata tertutup, dan
keranda dipekarangan rumah
Pecah hatiku menyadari hal ini
Bodohnya aku berada jauh disaat tatapan terakhirmu
Sesalku terungkap secara singkat karena ini
aku seonggok daging bernyawa yang engkau besarkan tersedu
melihatmu
lebih baik aku yang menggantikanmu tidur disana
bersalah sekali jiwa dan batinku bila mengingat yang
terlewati
ragaku terasa kuat menopang kejadian ini, tapi hatiku seakan
pecah berdarah melihat semua ini
aku tak mau jauh lagi di sampingmu
biar aku yang menghantar dan menjagamu sampai kita bertemu