tepat, atikan waktu merajut hasrat kita
masih dalam detaknya untuk kau hartakan
ku tau emosi jantungmu mengharmonisasikan nada sumbang sebelumnya
acuh ku balas bukan maksud menolaknya
kau (masih) bersandiwara
memainkan dua wajah yang mudah kubaca
ku tawar sisaku menjadi milikmu
bukaan terima itu telah ku tunggu
tak banyak waktu untuk kau tarik pandangku
sela-sela jenuh ku biaskan menyibukkan tawamu
ujung jarimu menandakan kita rindu
tapi tak bergeming kau dari peran panggungmu
Ungkapkan dan Rasakan
Translate
Kamis, 20 November 2014
Violensi jingga
Daku tdk mengatakan jingga di siang hari.
meramaikan birunya lngit merah senja ini.
matari jngan pulang dahulu, kurindu memjamkan
mata brsmamu.
gradiasi surga turun serentak
langit mengampu tanpa menolak
inikah violensi kerajaan langit
sambut daku yang hendak dipingit
meramaikan birunya lngit merah senja ini.
matari jngan pulang dahulu, kurindu memjamkan
mata brsmamu.
gradiasi surga turun serentak
langit mengampu tanpa menolak
inikah violensi kerajaan langit
sambut daku yang hendak dipingit
Pitaloka
pitaloka kemana perginya
merayu sendu pitaloka kemari
sunggingan paras ramahannya nyejukkan hati
tak perlu kata pitaloka mengayun pulang
pitaloka sumbang ribuan
amalan asa menuju mati
puasa kini sampaikan maghrib
gusti Allah senang umatnya ini
merayu sendu pitaloka kemari
sunggingan paras ramahannya nyejukkan hati
tak perlu kata pitaloka mengayun pulang
pitaloka sumbang ribuan
amalan asa menuju mati
puasa kini sampaikan maghrib
gusti Allah senang umatnya ini
8:50
di bawah atap langit dan sinar panas matahari, daku mengendorkan setiap otot kaku kaki dan lenganku. selesai (lagi) melewati satu satu malam sampai di penghujung bulan nantinya. daku kembali merindukan tanah lahirku meskipun ku injak tanah surga pelajar.
sesekali bernafas dalam sampai jantungku mengempit dan kembali melebar. sesekali merenungkan alur hidup wanita tua yang menggendong sebakul sayur dagangannya. berdiri bulu kudukku menyelami kehidupannya. menyambung hidup di dunia nyata ini. sedangkan (kita) manusia sibuk bersandiwara di dunia ciptaan manusia lainnya.
jrang sekali gedung gedung berlomba mnjadi yang tertinggi puncak kekuasaan disini. antara budaya atau kepuasan masyarakat jogja trhadap kesederhanaan yang begitu tinggi.
ketika suara adzan maghrib berkumandang, bulan masih malu-malu menegur matahari untuk menggantikannya. sementara diluar tetap sibuk dipenuhi pengguna jalan. sampai kini, daku masih mengenang tanahku meskipun aku telah berada di surga
sesekali bernafas dalam sampai jantungku mengempit dan kembali melebar. sesekali merenungkan alur hidup wanita tua yang menggendong sebakul sayur dagangannya. berdiri bulu kudukku menyelami kehidupannya. menyambung hidup di dunia nyata ini. sedangkan (kita) manusia sibuk bersandiwara di dunia ciptaan manusia lainnya.
jrang sekali gedung gedung berlomba mnjadi yang tertinggi puncak kekuasaan disini. antara budaya atau kepuasan masyarakat jogja trhadap kesederhanaan yang begitu tinggi.
ketika suara adzan maghrib berkumandang, bulan masih malu-malu menegur matahari untuk menggantikannya. sementara diluar tetap sibuk dipenuhi pengguna jalan. sampai kini, daku masih mengenang tanahku meskipun aku telah berada di surga
Lampu malam
di tengah kota, lampu malam menghangatkan.
menyusupi hati merindukan dekapan
di tengah kota, lampu malam menggantikan siang.
matari berkeluh kesah kepada bulan
di bawah lampu malam solekan pupur, bibir merah, rambut hitam memanggil pelanggan kedinginan.
di bawah lampu malam, melahirkan kerinduan yang mendalam
di bawah lampu malam, kehidupan tak lagi menyeramkan
menyusupi hati merindukan dekapan
di tengah kota, lampu malam menggantikan siang.
matari berkeluh kesah kepada bulan
di bawah lampu malam solekan pupur, bibir merah, rambut hitam memanggil pelanggan kedinginan.
di bawah lampu malam, melahirkan kerinduan yang mendalam
di bawah lampu malam, kehidupan tak lagi menyeramkan
Dua sisi berbeda
Awalnya hanya satu
kemudian menjadi seribu
panas mengalah tak lagi mengganas
gersang berubah pasang.
kering menghilang
basahpun datang
petani menangis senang
pekerja kantor mengumpat lantang
ladang subur petani bersyukur
kantor kota kosong ditiap sudut lorong
air dewa tumpah menjadi berkah melimpah
sebagian jiwa tak berpendapat sama dengan sang dewa
jiwa bawah berkumpul bermandikan hujan
jiwa atas mengutuk hujan teramat buruk.
kemudian menjadi seribu
panas mengalah tak lagi mengganas
gersang berubah pasang.
kering menghilang
basahpun datang
petani menangis senang
pekerja kantor mengumpat lantang
ladang subur petani bersyukur
kantor kota kosong ditiap sudut lorong
air dewa tumpah menjadi berkah melimpah
sebagian jiwa tak berpendapat sama dengan sang dewa
jiwa bawah berkumpul bermandikan hujan
jiwa atas mengutuk hujan teramat buruk.
Maghrib berbisik
Para burung mengepak sayap kembali ke sarang
budak setan menunggu melanjutkan perbuatan terlarang
sinar jalanan mengambil alih perintah sang surya
menggantikan siang menjadi malam sementara
gerombolan musafir meregangkan otot sejenak
melanjutkan arah ke kampung saat mereka masih kanak-kanak.
bangunan Tuhan menciptakan suara lantang
tak satupun makhluk bersedia menantang.
budak setan menunggu melanjutkan perbuatan terlarang
sinar jalanan mengambil alih perintah sang surya
menggantikan siang menjadi malam sementara
gerombolan musafir meregangkan otot sejenak
melanjutkan arah ke kampung saat mereka masih kanak-kanak.
bangunan Tuhan menciptakan suara lantang
tak satupun makhluk bersedia menantang.
Langganan:
Postingan (Atom)